meramaikan kembali blog..
0 Komentar :Penghargaan tak terduga
Kategori : penghargaan 0 Komentar :Award ini diberikan oleh Ketua Chemical Society Japan, cabang Kanto dan ternyata telah berlangsung sejak heisei 10 (1998), dan diberikan kepada siswa di kosen (D3) yang yushuu (excellent) dan berprestasi. Tahun lalu, senpai (senior) saya juga mendapat penghargaan ini. Bersyukur juga, mahasiswa asing disini bisa 2 tahun berturutan mendapat penghargaan ini. Penghargaan ini menjadi pembakar semangat untuk lebih berprestasi kelak di Universitas Kyoto. Ganbarimasu.
Perpanjangan Beasiswa Monbusho
Kategori : pengalaman 1 Komentar :Bagi lulusan SMU yang ingin mencoba kuliah di luar negeri, beasiswa D3 ini mungkin bisa dijadikan pilihan. Selain ada rencana pemerintah Jepang yang akan menaikkan jumlah penerima beasiswa monbusho program D3 hingga 3 kali lipat dalam 2/3 tahun kedepan, beasiswa ini pun bisa diperpanjang hingga S2 (maksimal).
Belajar dari kasus melamin di China
Kategori : iptek 1 Komentar :Di awal tahun 2007, dunia dikejutkan dengan matinya sekitar 1500 ekor anjing dan kucing di Amerika dan di China. Berdasarkan hasil penyelidikan FDA (BP-POM-nya Amerika)[1], diketahui terdapat kandungan melamin pada makanan kaleng anjing buatan China. Dan sekitar 60 juta kaleng makanan anjing buatan china dikembalikan ke negara asalnya. Sayangnya karena yang mati hanya hewan dan tidak menimbulkan dampak bagi manusia, tidak ada tindakan hukum bagi produsen makanan tersebut.
Namun di musim panas 2008, dunia kembali digemparkan dengan berita kematian dan keracunan, yang kali ini diaalami bayi di China setelah mengkonsumsi susu bubuk. Berdasarkan laporan pers China, dilaporkan 6 bayi meninggal dan 54,000 bayi mengalami keracunan akibat gagal ginjal akut. Tidak hanya berhenti di China, susu bubuk tersebut ternyata telah diekspor ke Hongkong dan Taiwan. Ditambah lagi, Nestle, perusahaan susu asal Swiss, juga diketahui menggunakan susu bubuk asal China tersebut untuk produknya. Jepang dan Amerika pun menjadi kelabakan, karena diketahui banyak produk makanannya, es krim dan snack, menggunakan susu bubuk buatan china sebagai bahan dasarnya. Walaupun saya belum pernah memakannya (Alhamdulillah), White Rabbit creamy candy, permen yang katanya lezat dan telah diekspor ke 50 negara (termasuk Indonesia), juga diketahui mengandung melamin
Apa itu melamine?

Dilihat dari strukturnya, seperti terlihat pada gambar disamping, melamin terdiri atas 3 buah cyanamide (N≡CNH3) yang saling berikatan. Melamine sendiri memiliki nama IUPAC yaitu 1,3,5-triazine-2,4,6-triamine, memiliki sifat mudah larut dalam air (3.1 g/L). Melamine bila dicampur dengan formaldehyde (HCHO) akan menjadi plastik yang mengeras bila dipanaskan (thermosetting), yang digunakan secara luas pada piring, rak, papan lantai, meja dapur, dan lain-lain. Melamin juga digunakan sebagai bahan membuat tinta dan pupuk.
Kenapa zat ini dicampur ke susu?
Sebelum membahasnya, mungkin ada baiknya kita mengenal sedikit tentang protein. Protein merupakan senyawa yang tersusun atas paduan berbagai macam asam amino, karena itu banyak terkandung unsur nitrogen (N). Sedangkan susu sendiri terdiri atas 2 zat, yaitu laktosa dan protein. Karena laktosa tidak mengandung unsur nitrogen, sehingga bila hasil analisis kandungan nitrogen (N) susu tinggi, maka kandungan protein susu otomatis juga tinggi. Kalau kita lihat struktur melamin sendiri, ada 6 unsur nitrogen didalamnya. Sehingga, jika melamin ditambahkan pada susu, maka susu tersebut seolah-olah mengandung banyak protein, padahal tidak.
Berdasarkan pengakuan produsen susu (Sanlu) yang ditahan pihak polisi China, sebelum memakai melamin, mereka telah mengajukan izin penjualan susu berkali-kali ke pemerintah, namun gagal akibat kandungan protein yang rendah dan tidak memenuhi standar. Dan ketika mereka menambahkan melamin pada susu tersebut, susu tersebut lolos dari pemeriksaan dan mereka dengan cepat memperoleh izin penjualan. Sama halnya ketika pengajuan izin penjualan kaleng makanan anjing untuk ekspor ke Amerika, produsen dengan liciknya menambahkan melamin, agar kandungan protein pada produk mereka terlihat banyak.
Bahayakah melamin?
Berdasarkan data MSDS, LD50 dari melamin adalah 3296 mg/kg (berat tikus)[3]. LD50 (Lethal dose 50% kill) merupakan standar untuk penentuan bahan itu beracun atau tidak, yang memiliki arti seberapa banyak zat yang diperlukan untuk mematikan setengah hewan (seperti tikus atau kelinci) yang digunakan. Semakin kecil nilai LD50, semakin berbahaya zat tersebut. Standar nilai LD50 untuk zat beracun adalah dibawah 50 mg/kg sedangkan zat yang dikategorikan tidak baik untuk kesehatan adalah dibawah 300 mg/kg. Bisa diambil kesimpulan, sebenarnya zat melamin sendiri tidak berbahaya bagi tubuh.
Dari hasil pemeriksaan otopsi kucing dan anjing yang mati yang sempat dibahas di awal, diketahui tidak adanya kerusakan pada jaringan tubuh atau gejala kekurangan darah, hanya ada satu karakteristik yang sama, yaitu ditemukannya batu putih pada ginjal. Hasil dari analisis zat, diketahui bahwa batu tersebut merupakan hasil dari ikatan (ikatan hidrogen) antara asam sianurik (cyanuric acid) dan melamin (lihat Fig. 2). Asam sianurik sendiri merupakan hasil perubahan melamin di dalam tubuh.
Surat kabar di Jepang sendiri memberitakan batu/gumpalan ginjal sebagai penyebab kematian. Hanya saja, batu tersebut bukanlah batu ginjal pada umumnya yang merupakan gumpalan dari senyawa kalsium fosfat, asam urik, dan lain-lain. Batu akibat gumpalan protein pun ada, walaupun sangat jarang. Biasanya, batu ginjal pada manusia banyak berupa satu buah batu saja, yang bisa menyebabkan rasa sakit yang sangat walaupun tidak sampai menimbulkan kematian. Adapun penyebab kematian dari kasus ini sendiri, jumlah batu ginjal, dari hasil dari gumpalan senyawa asam sianurik-melamin, tidak hanya berjumlah satu saja, namun banyak jumlahnya. Sehingga ginjal tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Dari kasus ini selain menimbulkan banyak korban jiwa dari pihak konsumen (bayi), juga telah menyeret pegawai dan bos produsen susu tersebut ke meja pengadilan, dua dari bos perusahaan tersebut telah dikenakan hukuman mati oleh pengadilan China. Selain itu, membuat image produk China semakin buruk di mata dunia, setelah kasus keracunan gyoza (makanan dari kulit lumpia yang isinya daging/sayur). Di China sendiri, ternyata tidak ada aturan/hukum yang melarang penggunaan melamin pada susu. Berbeda dengan negara-negara Eropa yang melarang penggunaan melamin diatas 3.0 ppm pada makanan dan 2.5 ppm pada susu.
Referensi
- http://www.fda.gov/oc/opacom/hottopics/petfood.html
- Majalah “Kagaku“ Vol 63 no. 12
- http://msds.chem.ox.ac.uk/ME/melamine.html
Berkurban dengan ikhlas
Kategori : islam 2 Komentar :Walaupun demikian, "Berkurban secara ikhlas" yang menjadi makna idul adha ini, semoga tidak lupa untuk dihayati untuk kemudian diamalkan secara kontinue dalam kehidupan sehari-hari. Ganbarimasu ^^.
"Selamat Hari Raya Idul Adha 1429 H, Berkurban dengan ikhlas untuk bersama, untuk bangsa".
*alhamdulillah kali ini bisa kurban 2 kambing di tanah air ^^
Go to gakkai
Kategori : pengalaman 0 Komentar :Rabu kemarin (22 Oktober), aku berkesempatan untuk berpartisipasi di AMEC (Asian Meeting on Electroceramics) yang sudah ke-enam kalinya diadakan. Pada tahun ini, diadakan di kota Tsukuba, kota yang dikenal sebagai pusat research di jepang. Ada 2 session pada konverensi kali ini, yaitu oral presentation dan poster presentasion. Karena bahasa inggris-ku gak bagus-bagus amat ^^;, aku berparitisipasi sebagai peserta di bagian poster presentation.
Ceramics sendiri identik dengan bahan inorganik yang sangat luas aplikasinya. Mulai sebagai ubin/keramik ^^, bidang elektronik, hingga bidang energi. Penelitian-ku sendiri berkaitan dengan proton elektrolit (bahan untuk memindahkan proton/ion H+ dari anoda ke katoda) dari bahan inorganik untuk aplikasi fuel cell, calon sumber energi masa depan.
Persiapan untuk AMEC-6
Untuk pergi ke gakkai/konverensi bukan lah perkara mudah. Butuh persiapan matang dan topik yang menarik. Untuk topik, aku cukup bersyukur mendapat topik yang lumayan lagi hot. Sedangkan untuk persiapan sendiri, aku tidak mempersiapkannya secara khusus, karena sensei tiba-tiba meminta aku untuk mendaftar AMEC-6 ^^;. Alhamdulillah, penelitian yang sudah ku lakukan sebelumnya, setidaknya cukup untuk membuat proceeding awal yang hanya 1 lembar. "Setidaknya daftar terlebih dahulu, selanjutnya ganbarimasho ^^" ujar sensei-ku. Mau gak mau harus menuruti titah sensei. Aku pun mencoba mendaftar untuk sesi poster presentation.
Tugas selanjutnya yang menanti adalah membuat proceeding 4 lembar dalam bahasa inggris. Sebenarnya aku tinggal melengkapi sedikit data saja. Walaupun sedikit, ternyata data tersebut sangat sulit diambil akibat musim panas yang berlembab. Bahan yang aku teliti, sangatlah hygroscopic (mudah menyerap uap air) sehingga kelembapan yang tinggi (mencapai 80%), akan membuat bahan mudah melunak. Walaupun telah mencoba beberapa kali untuk mengatasinya, hasilnya tetap jauh dari yang diharapkan. Hal ini yang cukup membuat ku stress, apalagi juken daigaku yang semakin dekat.
Ditengah kebuntuan ide, tiba-tiba saja mendapat referensi dari sensei untuk menanggulangi masalah tersebut. Yaitu mencampurnya dengan sebuah bahan polimer. Ternyata berhasil. Akhirnya data-data semua terkumpul, menjadi mudah untuk membuat proceeding. Jadi teringat kisah sang alkemis (karya Paulo Coelho), "Jika kamu berusaha mewujudkan takdirmu, maka seluruh alam semesta akan membantu mewujudkan takdir tersebut".
"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui", begitulah bunyi peribahasa yang benar-benar ku maknai. Selain membuat proceeding untuk AMEC-6, dengan dengan tema yang sama, aku berhasil membuat proceeding satu lagi untuk nihon taiyou energi gakkai (Japan solar energy society) dengan penambahan sedikit data. Poster pun, hingga sehari menjelang konverensi, dapat diselesaikan.
Hari-H, AMEC-6
Tibalah hari-H, yang kebetulan bertepatan dengan hari ulang tahun sensei-ku. Sehingga ketika istirahat siang, ku ditraktir oleh sensei ^^. Di tsukuba sendiri, ada toko yang menjual paffe yang ukurannya sangat besar. Dengan penuh penasaran seberapa besar paffe tersebut, segera kami pergi ke toko tersebut. Dan ternyata memang benar-benar besar, tingginya setengah tubuh manusia. 5 orang pun tidak sanggup menghabisi paffe tersebut. Karena memang sudah makan makanan berat sebelumnya (^^)
Setelah perut kenyang dengan paffe, segera kami kembali ke tempat acara. Tempat acara sendiri, sudah dipenuhi oleh peserta dari Thailand, India, China, Taiwan, dan Korea yang siap dengan presentasinya. Akhirnya tiba giliranku untuk presentasi poster dalam berbahasa inggris yang merupakan pengalaman pertama kali bagiku. Walaupun konverensi ini skala Asia, namun bahasa yang mendominasi tetaplah bahasa jepang. Aku sendiri malah lebih sering menjelaskannya dalam bahasa jepang, khususnya untuk orang jepang yang datang. Menjelaskan dalam bahasa inggris, sangat membuatku kewalahan karena sering kecampur dengan bahasa Jepang. Selama 90 menit, presentasi ini berlangsung. Alhamdulillah ada 7 orang yang mau sengaja mampir ke tempat ku ^^;. Cukup banyak juga masukan/saran yang aku dapatkan mengenai tema yang aku bawa. Waktu yang tersisa, ku isi dengan jalan-jalan melihat poster dari peserta lain. Dan temanya seru-seru. Ada yang membawakan tema mengubah bentuk crystal ZnO dengan mudah dengan merubah tegangan arus D.C", dan lain-lain.
Acara ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi ku. Cukup menyenangkan juga lho ikut gakkai. Jangan ragu untuk mencobanya!
Dan tak lupa sebuah foto sebagai kenang-kenangan.
gakkai : konverensi/kongres
juken daigaku : ujian masuk universitas
Dari minyak kembali ke minyak
Kategori : Teknologi 3 Komentar :Di Jepang, 60% lebih dari sampah rumah tangga adalah sampah plastik [1]. Selama ini, untuk sampah plastik akan berakhir di tempat pembuangan akhir (landfill) akibat kurangnya ketegasan dalam me-recycle plastik. Khusus di Tokyo, akibat terbatasnya lahan pembuangan sampah, mulai tahun lalu (2007) sampah organik dan plastik disatukan menjadi sampah terbakar. Namun cara pengolahan sampah ini dikhawatirkan menghasilkan dioksin dan gas CO2 dalam jumlah besar yang berdampak negatif bagi lingkungan.
Mengenal Plastik
Seperti kita ketahui, sebagian besar bahan baku plastik berasal dari minyak bumi (naphtha). Sekitar 8 % dari minyak bumi di dunia digunakan untuk membuat plastik, dan diperkirakan akan terus naik prosentase-nya seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dunia. Bisa dibayangkan ya, seandainya minyak bumi di dunia itu habis.
Bicara tentang plastik, plastik dibagikan menjadi dua macam berdasarkan sifatnya bila dipanaskan, yaitu tipe cokelat(nama ilmiahnya : thermoplastic) dan tipe biskuit (nama ilmiahnya : thermosetting). Waduh kok jadi bicara makanan ^^. Maksud dari tipe cokelat adalah plastik yang melunak bila dipanaskan, sama dengan coklat kan! Sedangkan tipe biskuit adalah plastik yang apabila telah mengeras akan tetap keras walaupun terus dipanaskan, mirip dengan biskuit.
Plastik yang berbahan baku minyak termasuk dalam golongan plastik tipe cokelat. Karena sifatnya yang melunak bila dipanaskan, plastik tipe cokelat ini dapat diolah kembali menjadi bahan baku awal/monomer. Selain itu, ada pengolahan sampah plastik dengan mengubahnya menjadi gas atau sebagai bahan reduktan pada industri besi. Namun, belakangan ini telah dikembangkan teknologi mengubah plastik menjadi minyak kembali sebagai alternatif memecahkan masalah sampah plastik.
Teknologi
Dari pemikiran sederhana ”plastikkan dari minyak, pasti bisa diolah kembali menjadi minyak”, Akinori Ito berhasil mengembangkan teknologii ni dan bahkan berhasil mengaplikasikannya untuk skala rumah tangga.
Sampah plastik yang dapat diolahmenjadi minyak sering disebut dengan 3P yang merupakan singkatan dari PE(Polyethylene), PP (polypropylene), dan PS (polystyrene).
Polypropylene : plastik snack, tupperware, casing CD, Capbotol dll
Polyethylene : plastik “kresek”, botol minyak goreng, sampo,dll
Polystyrene : steorofoam, cup mie, tempat bento, dll
Adapun cara kerja dari teknologi yang dikembangkan oleh Akinori Ito ini ternyata cukup sederhana. Pertama, sampah plastik dibersihkan dan dipotong menjadi ukuran kecil. Kemudian, dipanaskan pada suhu 450 ºC. Pada suhu ini, plastik akan meleleh dan kemudian menjadi gas. Gas yang terbentukdipisahkan dan didinginkan. Dari proses ini akan menghasilkan tetesan minyak. Proses ini hanya memakan waktu 1 jam, dan prosentase minyak yang dihasilkan mencapai 70-90% (dari 500 gr plastik, mampu menghasilkan 350-450 gr minyak). Apabila minyak yang dihasilkan didestilasi (disuling), maka akan menghasilkan minyak tanah, bensin, dan naphtha.
Yang menarik, teknologi ini sudah diterapkan terlebih dahulu bukan di Jepang, melainkan di kepulauan Marshall, kepulauan yang terletak diantara Guam dan Hawai. Dahulu, di kepulauan ini sampah plastik menjadi permasalahan serius bagi pemerintah setempat karena selain kesulitan dalam mengolah sampah plastik, sering juga ditemukan tumpukan sampah di pinggir-pingir pantai yang membahayakan masyarakat sekitar. Untuk memecahkan masalah ini, Presiden Kepulauan Marshall mengundang Akinori Ito untuk datang ke sana. Akinori Ito memulainya dengan membuat tempat sampah khusus plastik. Kemudian, Akinori Ito mengunjungi sekolah di sana dan mengenalkan proses pengolahan sampah plastik menjadi minyak secara langsung kepada anak-anak di sana hingga masyarakat terdorong untuk memulai memilah sampah, yang merupakan hal baru bagi mereka. Kemudian sampah yang terkumpul, dilolah menjadi minyak. Saat ini, dengan diperkenalkan teknologi ini, permasalahan sampah plastik di kepulauan Marshal dapat terpecahkan.
Dengan adanya teknologi ini, akan dapat menambah nilai dari sampah plastik. Kalo hingga saat ini mungkin kita tidak perlu pikir panjang untuk membuang plastik yang tidak terpakai, kelak mungkin kita akan berpikir berkali-kali untuk membuangnya. Apalagi dengan mahalnya harga minyak bumi saat ini yang pernah mencapai 140dollar/barrel. Bagi Jepang, negara yang miskin sumber daya alam, sampah plastik ini akan menjadi barang yang sangat berharga. Ditambah, 60 % dari sampah plastik di Jepang berbahan
Selain itu, teknologi ini sangat ramah lingkungan. Jika 1 kg sampah plastik dibakar begitu saja, akan mengeluarkan sekitar 3 kg CO2. Namun, jika diolah kembali menjadi minyak, hanya mengeluarkan 0.38 kg CO2. Dapat disimpulkan, dengan teknologi ini dapat mengurangi emisi gas CO2 sebesar 87 % [2]
Sumber
1. PlasticWaste Management Institute Japan (www.pwmi.or.jp)
2. Blest Corp. (www.blest.co.jp)

